Tampilkan postingan dengan label Pemahaman dasar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemahaman dasar. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Februari 2013

Revisi Naskah

Revisi naskah bisa dianalogikan sebagai renovasi rumah. Ada tembok yang dihancurkan karena ruang depan hendak digabung dengan ruang tengah. Ada dinding yang dijebol untuk membuat jendela baru. Ada tambahan ruangan kecil di bagian belakang. Taman di bagian samping diubah jadi kolam ikan. Bahkan bisa saja, seluruh bangunan baru beserta halamannya dihancurkan, lalu di atasnya dibangun sebuah rumah dan halaman yang benar-benar baru, berbeda seratus persen.
Merevisi naskah lebih kurang sama seperti itu. Si penulis mengubah nama tokoh, mengubah jalan cerita, memperbaiki tema tulisan, menghilangkan bagian tertentu, menambahkan bab baru yang sebelumnya tidak ada, dan seterusnya. Tujuannya tentu saja agar tulisan tersebut menjadi lebih baik, lebih bagus, lebih berkualitas.
Revisi naskah idealnya hanya bisa dilakukan oleh si penulisnya. Orang lain tidak berhak, kecuali bila diminta atau diizinkan oleh si penulis.



(Jika Anda meminta saya merevisi naskah Anda misalnya, maka ada tarif khusus.)
Contoh revisi naskah adalah seperti kutipan terakhir di atas. Anda bisa melihat:
  • pasar diubah jadi mall;
  • nama Andi diubah jadi Joko;
  • “beli cabe dan garam” diubah jadi “beli dua pasang celana jins”;
  • dialog pun diganti, menyesuaikan diri dengan perubahan barang yang dibeli;
  • dan seterusnya.
Itulah revisi naskah! Sebuah pekerjaan yang idealnya hanya boleh dilakukan oleh si pemilik atau penulis naskah.
NB: Dalam prakteknya, seorang penulis bisa saja merevisi sekaligus mengedit naskahnya. Sebagai penulis, Anda pun bisa mengedit tulisan sendiri. Kebetulan ada seorang penulis – Raditya Dika – yang pernah menyampaikan kiatnya. Silahkan dibaca di sini.

Kamis, 21 Februari 2013

SKJ 2012


Ini adalah senam SKJ 2012 sobat,
di sekolahku kini sedang gencar - gencarnya untuk menghafal gerakan SKJ ini.
gerakan yang ada di dalam senan ini, sama kaya gerakan Dens atau menari, di sini ada dua sesenya kawan.
yang pertama fersi Lomba, yang ngebitnya minta ampun.
kalau sobat memakai gerakan ini, di jamin deh semangat akan tumbuh dan semakin semangat untuk mengikuti gerakan - gerakan yang ada di dalam senam ini.
yang kedua ada gerakan latihan, yang di mana gerakan ini memberi atau menunjukan agar pemula yang baru saja mengenal senam ini dapat menghafal atau mengikuti gerakan yang ada dengan mudah dan gampang.

Hem ,,, yang aku dengar juga, seluruh provinsi indonesia akan mengadakan pengambilan nilai melalui senam ini, yang di mana ulangan atau ujian praktek olahraga akan menggunakan praktek senam ini. yah bisa ada dua sesi dalam pengambilan nilainya.

yang pertama di mana jika kalian hafal dan pasih dalam gerakan senam SKJ 2012 ini kalian dapat menggunakan gerakan Lomba yang udah di jelaskan di atas tadi.
yang kedua di mana kita masih lupa - lupa namun ingat dengan gerakan yang ada, kita dapat menggunakan persi latihan yah sama juga udah di jelasin di atas.




dalam pengambilan nilai inipun berbeda pula nilainya, lebih susah atau tepatnya kalian menggunakan persi lomba akan mendapatkan nilai yang semp;urna,
eittt, untuk persi latihan jangan putus asa dulu. di sini juga ada nilai yang memuaskan untuk itu.
mereka yang menggunakan persi latihan ini tetap mendapatkan nilai yang sama dengan persi lomba, namun sedikit juga perbedaan dalam pengurangan jika ada gerakan - gerakan yang salah.

Nah itu aja yang bisa aku jelaskan, karena akmu juga gak terlalu hafal alias ingat - ingat lupa hehehe ^^
tapi aku udah siapkan videonya untuk sobat - sobat semua, jadi selamat mencoba dan SUKSES




Senin, 27 Agustus 2012

Artikel Pertumbuhan Ekonomi


Setelah BPS mengumumkan pertumbuhan ekonomi (Product Domestic Product/PDB) Indonesia tahun 2010 sebesar 6.1 persen, beragam analisis muncul. Setidaknya di harian Kompas cetak ada tiga artikel membahas pertumbuhan tersebut. Ekonom Indef, Ahmad Erani Yustika mengemukakan tiga pendapatnya. Pertama, sektor pertanian yang menyerap 41 persen tenaga kerja hanya tumbuh 2.9 persen, jauh dibawah rata-rata pertumbuhan nasional sehingga pertumbuhan ekonomi tidak mampu memecahkan masalah pengangguran dan kemiskinan. Kedua, sektor jasa/non tradable yang menyerap sedikit tenaga kerja tumbuh lebih cepat sehingga meningkatkan kesenjangan. Ketiga, terjadi disindustrilisasi (pertumbuhan sektor manufaktur selalu lebih rendah dari rata-rata nasional). Pengamat pasar modal, Yanuar Rizki berpendapat pertumbuhan didominasi oleh konsumsi orang kaya dan gagal menggerakkan perekonomian karena konsumsi dibelanjakan untuk barang-barang impor. Wartawan Kompas, Orin Basuki menggaris bawahi dominasi jawa yang menyumbang 58% PDB dan investasi riil masih terpusat di jawa.
Sebenarnya, komposisi pertumbuhan 2010 tidak bisa dikatakan gagal mengatasi masalah pengangguran ataupun meningkatkan kesenjangan. Sektor penyerap tenaga kerja terbesar setelah pertanian adalah perdagangan yang menyerap tenaga kerja sebesar 22.5 juta pekerja atau sekitar 22% dari total pekerja. Sektor ini tumbuh 8.7%, jauh lebih cepat dari rata-rata pertumbuhan nasional dan tentunya berkontribusi positif terhadap pemerataan dan penurunan angka pengangguran. Sehingga secara keseluruhan, pengaruh pertumbuhan semua sektor terhadap tingkat pengangguran dan kemiskinan tidak bisa dianalisa secara langsung dan memerlukan pengumpulan data lebih lanjut.
Lebih rendahnya pertumbuhan sektor pertanian dibandingkan sektor lainnya adalah fenomena yang lazim ditemui dalam sejarah pembangunan ekonomi di negara-negara besar yang berhasil berrubah menjadi negara maju, khususnya negara-negara di asia timur. Pertanian memiliki absolute input constraint yaitu lahan pertanian, sehingga dalam suatu titik, penambahan input akan menghasilan tambahan output yang lebih rendah.
Belajar dari pengalaman Jepang (negara lain di kawasan seperti Korea & Taiwan memiliki pola yang hampir sama), menurut hemat saya, kemiskinan dan ketimpangan pendapatan di Indonesia hanya bisa diatasi dengan mengurangi jumlah pekerja di sektor pertanian. Data empiris hampir seluruh perekonomian dunia menunjukan bahwa rasio total gaji dengan output (labor share to output ratio) adalah tetap, jika jumlah pekerja sektor pertanian turun, maka pendapatan per pekerja di sektor pertanian akan naik lebih cepat walaupun pertumbuhan sektor pertanian relative lambat. Tentunya ini merupakan program besar nasional yang tidak hanya melibatkan kebijakan ekonomi, tetapi juga sektor lain seperti pendidikan.

Jepang saat ini berhasil menjadi negara maju sekaligus negara yang paling merata tingkat pendapatanya. Kunci sukses Jepang ini terletak pada keberhasilannya mengurangi jumlah pekerja di sektor pertanian. Grafik dibawah menggambarkan bahwa pada tahun 1956, jumlah pekerja di sektor pertanian di Jepang hampir sama dengan kondisi Indonesia saat ini yaitu mencapai 35%. Di puncak keemasan ekonomi Jepang di awal 90an, jumlah pekerja sektor pertanian Jepang turun menjadi hanya sekitar 6%. Walaupun pemerintah Jepang telah memberikan subsidi besar di sektor pertanian (bisa dilihat dari meningkatnya jumlah modal yang digunakan di sektor pertanian di grafik c), rata-rata gaji pekerja di sektor pertanian hanya 20% dari rata-rata gaji sektor lainnya. Bayangkan besarnya ketimpangan jika tidak ada perpindahan pekerja sektor pertanian.